Archive for April 24th, 2008

24
Apr
08

Kemanusiaan dalam bisnis

Malam ini adalah puncak ketidakmengertian saya tentang makna bisnis terhadap kemanusiaan. Saya masih belum mengerti mengapa bisnis selalu menjadi pembenaran segala bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Dua hari yang lalu seorang rekan kerja di perusahaan IT tempat saya bekerja, masuk rumah sakit dan terpaksa harus Operasi usus buntu, beberapa hari yang lalu saya dan seorang rekan yang lain juga “terpaksa” jatuh sakit meskipun (alhamdulillah) “masih” dalam taraf flu biasa. Apakah hal seperti ini memang suatu hal yang lumrah bagi seorang pekerja IT?

Kami pernah mencoba mengajukan permohonan kepada atasan kami untuk mengambil karyawan lagi ataupun solusi lain agar dapat sedikit menurunkan tensi dan ritme kerja yang bagi kami sudah overload ini. Namun jawaban yang kami terima justru membuat kami menyesal telah membuang-buang tenaga dengan menyampaikan saran yang menurut kami dapat memperbaiki kinerja perusahaan. “Orang berbisnis ya gini ini”,”Ya begini ini orang bekerja, ga bisa santai-santai saja” adalah kalimat yang paling sering kami dapatkan apabila kami meminta solusi atas load pekerjaan yang telah melampaui batas. Ketika kami minta agar dapat beristirahat hari sabtu atau minggu sekedar untuk meluruskan punggung, “Kamu enak2an aja, aku malah 1 minggu ga tidur sama sekali gara2 nglembur di rumah” adalah jawaban yang sudah menjadi lagu mars di kantor. Nglembur di rumah? Cecak pun tidak bisa jadi saksi apakah dia benar-benar lembur di rumah…hehehe. Begitulah keadaan kami yang dipimpin oleh seorang wanita berumur 26 tahun yang sejak kecil tidak pernah tahu dinginnya kehujanan, perihnya kepanasan, ataupun menangis karena uang jajannya kurang…:-)

Yang menjadi puncaknya, sehingga memicu saya memposting blog ini, saat rekan kerja saya sakit, muntah-muntah dan kemudian masuk rumah sakit, kami melaporkan hal ini kepada atasan kami dengan harapan ada solusi untuk itu. Namun jawabannya di luar dugaan, “Berarti dia belum siap kerja, belikan saja amoxilin” kalimat yang sangat tidak menyenangkan di telinga saya. Saya masih tidak habis pikir :

  1. Apakah karena kami hanya seorang karyawan IT biasa dengan penghasilan yang hanya setara dengan penghasilan seorang sopir bajaj (mohon maaf buat para sopir bajaj atas pembandingan ini), kami tidak layak dianggap manusia dengan hak asasi?
  2. Apakah karena beliau, wanita berumur 26 tahun yang belum pernah jadi karyawan kecil itu, adalah lulusan S2 di luar negeri maka kemampuannya selalu melebihi kemampuan kami karyawan kecil yang hanya mampu membuat web portal dan software sekelas “who want’s to be millionare” tanpa bonus proyek ini?
  3. Apakah usus buntu berstempelkan loyalitas milik rekan saya yang telah dipotong hanya dihargai dengan sedosis amoxilin dan kalimat “Dia belum siap kerja”?

Di luar itu semua saya pribadi masih bangga dan mampu menghargai diri dan kemampuan saya dengan bergumam, “kami adalah pejuang hidup meskipun kami tidak dimanusiakan. Semoga hidup kami lebih berarti di kemudian hari”.




Yahoo Messenger: adioncyber


Kategori

 

April 2008
M T W T F S S
« Feb   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Maps

Pages