Kemacetan seperti ini tidak menyurutkan niat para pemilik kendaraan pribadi untuk mudik dengan kendaraan pribadi mereka. Baik kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua tidak ada yang menganggap jarak tempuh dan kemacetan sebagai masalah yang berarti untuk mudik lebaran.
Banyak faktor yang mendukung terbentuknya fenomena ini, namun 2 faktor yang kita lihat paling menonjol adalah :
Faktor pribadi
Gengsi dan harga diri manusia di Indonesia yang saat ini lebih diukur dengan materi. Mereka ingin menunjukkan kepada para anggota keluarga mereka di desa bahwa ‘inilah hasil kerja keras kami di kota..kendaraan yang mentereng’. Kasihan betul mereka! Mereka tidak pernah berpikir apabila semua warga di negara kita memiliki kendaraan pribadi dan mudik menggunakan kendaraannya masing-masing, niscaya mereka tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan karena jalan-jalan di indonesia sudah tidak mempu menampung jumlah kendaraan yang ada
Faktor transportasi
Tingginya tarif angkutan lebaran dan kesewenang-wenangan para pemilik armada trransportasi dalam meningkatkan tarif semaunya. Belum lagi kenyamanan dan keamanan yang menjadi hak asasi penumpang benar-benar diabaikan oleh angkutan lebaran. Angkutan yang penuh sesak dengan penumpang dan sopir yang ugal-ugalan menyebabkan mereka berpikir bahwa dengan resiko yang sama lebih baik mereka menggunakan kendaraan pribadi yang ongkosnya jauh lebih murah dengan kenyamanan yang lebih fleksibel.
Jadi janganlah kita saling menyalahkan. Introspeksi diri selalu jadi hal yang terbaik untuk memandang kondisi ini.
Thanks for comments